
Jakarta, Prince Cooke Indonesia
—
Segala macam
kuliner
ada
Blok M
. Hampir di tiap sudut dan ruas jalan, pengunjung bisa menemukan beragam rasa yang bisa memanjakan lidah dengan cara berbeda.
Namun ketika mampir di tikungan di Jalan Mahakam hingga ke Taman Ayodya (dahulu Taman Barito), ada sesuatu yang unik. Kamu bisa menemukan jajaran penjual
gultik
, alias gulai tikungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pedagang kuliner yang sudah jadi ciri khas Blok M sejak 1980-an ini punya karakteristik serupa. Jajaran gerobak pikul dengan panci besar dan tumpukan piring, dilindungi oleh payung besar. Di depannya terdapat sejumlah meja kecil yang dikelilingi dua hingga empat kursi plastik.
Jadi andalan banyak pengunjung Blok M sejak bertahun-tahun lamanya, mari kita icip-icip rasanya. Apakah pas di indra pengecap atau di dompet?
Sejak 1980-an
Gultik sudah dikenal sebagai kuliner malam di Blok M. Para penjualnya baru mulai bermunculan sore hari untuk menata dagangan, kursi, dan meja.
Meski lebih banyak yang berjualan gultik di malam hari, tetapi ada saja yang sudah mulai berjualan sejak pukul 16.00 WIB. Salah satunya Gultik Pak Kumis yang ketika itu sedang dikelola oleh tiga pegawai.
Ade Heri (35), salah satu pegawai Gultik Pak Kumis yang berjualan tepat di perempatan Jalan Mahakam-Bulungan, dengan senang hati menjelaskan serba-serbi tentang gultik. Dimulai dari Gultik Pak Kumis sendiri yang sudah berjualan sejak 1980-an.
”
Kan
, blok yang dulu terkenal keras,
tuh
, Blok M. Banyak yang tawuran, banyak yang ini, banyak yang itu. Akhirnya bisa berjualan di sini, berjuang, lah intinya,” tutur Ade bercerita pada
Prince CookeIndonesia.com
sambil menyiapkan sajian gultik, Kamis (21/5) sore.
Singkat cerita, berkat berkumpulnya para pedagang gultik di Blok M, area mereka berjualan pun dijadikan pusat kuliner gultik. Sudah sejak lama mereka mendapat izin berjualan dari kelurahan setempat.
Mengutip berbagai sumber, kuliner gultik sendiri bermula dari dari perantauan asal Sukoharjo, Jawa Tengah yang merintis usaha di sini. Mereka membawa resep gulai khas Solo namun dengan sedikit modifikasi.
Istilah ‘gulai tikungan’ atau gultik sendiri sebenarnya merujuk pada lokasi berjualan yang selalu berada tepat di tikungan. Istilah ini mulai populer sejak tahun 1990-an.
Jika dibandingkan dengan gulai pada umumnya, menurut Ade, gultik punya rasa yang khas.
“Bumbu-bumbunya, gultik itu lebih komplet dari mulai lengkuas, segala macamnya, sudah ada di situ. Kayu manis juga,” ujar Ade.
Icip-icip gultik, bagaimana rasanya?
Dijual dengan harga Rp10 ribu, dalam satu porsi gultik sudah termasuk nasi, bawang goreng, daging, dan tetelan yang disajikan dengan siraman kuah gulai yang agak encer, lalu terakhir ditambahkan kerupuk.
Saat dihidangkan, di meja juga disediakan kondimen pelengkap, seperti kecap dan sambal cair. Ada pula satu piring berisi aneka sate, mulai dari sate telur puyuh, usus, ati, hingga ampela. Setiap tusuk dihargai Rp5.000.
Adapun minuman yang ditawarkan pun sederhana, yakni minuman teh botolan dan air mineral kemasan dengan harga masing-masing Rp5.000.
Saat mencicipi kuah gultik, aromanya memang tidak menyengat. Namun ketika menyentuh lidah, terasa perpaduan rasa manis tipis serta kehangatan dan rasa menusuk dari rempah lainnya.
Sesuai resep gultik pada umumnya, rempah-rempah yang digunakan, antara lain lengkuas, jahe, serai, kayu manis, gula merah, hingga lada.
Ketika mencicipi dagingnya, teksturnya terasa empuk dan mudah digigit. Selain karena direbus cukup lama, daging memang disajikan dengan irisan tipis.
Adapun kerupuk bisa dimakan belakangan setelah makan sesuap campuran nasi dan daging. Namun, kamu juga bisa merendam kerupuk terlebih dahulu di kuah gulai, kemudian dimakan bersamaan dengan nasi dan daging.
Lalu bagaimana dengan kehadiran aneka sate? Tampaknya kehadirannya bukan untuk melengkapi rasa gultik, melainkan porsinya.
Selain harganya yang murah, gultik juga dikenal memiliki porsi kecil. Kehadiran sate bisa menjadi ‘pengganjal’ agar perut tetap terasa kenyang.
Soal kuah gultik, memang terasa lebih encer dibanding gulai pada umumnya. Namun bagi yang ingin mencoba makanan bersantan tetapi tak bikin enek, gultik bisa jadi pilihan.
Baca halaman selanjutnya…
Harga murah meriah jadi daya tarik utama
Soal rasa, memang tergantung dari selera masing-masing. Namun satu hal yang membuat gultik tetap bertahan di Blok M bertahun-tahun lamanya, ternyata karena harganya. Tak heran kalau kuliner ini jadi serbuan orang di kala dompet sedang menipis.
“Memang karena makanan murah, ya, terus daging-dagingan. Dari zaman dulu tuh, emang dia yang murah,” ujar Jojo (59), salah satu pembeli saat ditanyai perihal apa yang menarik dari gultik.
Jojo ketika itu baru saja selesai berkegiatan bakti sosial bersama tiga rekannya di sekitaran Blok M. Ia mengajak rekan-rekannya untuk makan gultik karena sedang “ngidam.” Maklum, Jojo sudah menyukai gultik sejak 1989.
“Saya dari zaman bujangan sudah main di sini. Kebetulan enggak jauh [dari] rumah mertua. Jadi, sama istri ke sini. [Saat] sudah punya anak, sama anak makan ke sini juga,” tutur Jojo.
Soal porsi, Jojo mengaku dahulu bisa habis dua hingga tiga piring dalam sekali makan. Namun kini merasa satu piring sudah cukup. Ditambah lagi, ada makanan pendamping seperti sate-satean yang sebelumnya tidak dijual bersamaan dengan gultik.
“Ya, seadanya aja ini. Zaman dulu belum ada begini-begini [sate-satean],” ucap Jojo.
Fitri (37), pembeli lainnya, juga sepakat harga jadi daya tarik utama gultik. Sebagai warga Jakarta, Ia mengaku kenal gultik sejak zaman kuliah, sekitar 2009.
“Murah sih, Rp10.000 seporsi. Ya, buat jajanan anak kuliah, itu
worth it
, lah,” ucap Fitri yang ketika itu sedang makan gultik bersama seorang kawannya.
Fitri lalu menceritakan suasana jualan gultik di Blok M dari zaman ia kuliah hingga sekarang. Menurutnya, jumlah penjual kini lebih ramai.
“Kalau yang sekarang tuh lebih rame. Kalau dulu, zaman gue ke sini, yang jadi pusatnya tuh memang di sekitar Barito. Sekarang itu, dari [Jalan] Bulungan sampai Blok M ujung Barito lagi, itu
full
orang jualan gultik,” tutur Fitri.
[Gambas:Photo Prince Cooke]
Penjualan tak seramai dahulu
Soal harga gultik, Ade Heri juga mengatakan sejak lama harga tak berubah, masih di angka Rp10 ribu. Namun ia merasakan ada penurunan penjualan selama beberapa tahun ini.
Dahulu, pembeli sudah ramai berdatangan sejak sore. Kini, dagangan baru ramai diserbu selepas azan Magrib. Masalahnya, bukan pada selera orang yang berubah.
“Bukan, karena perekonomian, kita ngeliatnya gitu. Kalau perekonomian lagi maju, kita di sini rame, dah. Kalau perekonomian kecil, perekonomian rendah, di sini kelihatan. Mau jajan, mikir-mikir dulu dah buat jajan anaknya di rumah,” ujar Ade.
Ade juga membandingkan dengan jumlah penjualan yang biasa ia hitung dengan skala literan nasi gultik. Dahulu, per harinya ia bisa jual 8-10 liter per hari.
“Sekarang paling 5-6 liter. Ya, minimal lah 5 liter. Senin, malam Selasa, malam Rabu, bisa 5 liter, tapi misalkan Kamis-Jumat bisa 6 liter,” ucap Ade.
Meski demikian, Ade mengaku tidak mengalami rugi meski penjualan menurun. Pendapatan hariannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di rumah.
“Kalau masalah rugi sih, enggak. Tapi kita bertahan aja, karena kita di sini menunya KKN, ‘Kurang-Kurang Nambah.’ Kita alhamdulillah gitu, kan,” ucap Ade sambil berkelakar.
Add
as a preferred
source on Google
Harga Murah Meriah Jadi Daya Tarik Utama Gultik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Dewi Perssik Terbang Naik Helikopter Demi Lihat Sapi Kurban Disembelih
Baca lagi: Daftar Pengalihan Arus Lalin Usai Jalan Amblas di Lenteng Agung Jaksel
Baca lagi: 23 Orang Masih Hilang di Reruntuhan Gedung Roboh di Filipina



